Seperti yang saya singgung pada bagian sebelumnya, Moving average merupakan salah satu indikator yang banyak digunakan karena penggunannya yang sangat luas. Namun kegunaan yang paling dasar adalah sebagai alat bagi seorang trader untuk mengetahui tren yang sedang terjadi pada sebuah chart (lihat gbr.1). MA memberikan pertanda kepada penggunanya bahwa sebuah tren baru sedang terbentuk atau sebaliknya memberitahukan bahwa tren yang sedang berjalan akan berakhir. Kelemahannya, dikarenakan MA membutuhkan data dari setiap price yang akan muncul, maka signal tren baru maupun tren berakhir akan selalu hadir terlambat. Artinya penggunanya selalu akan terlambat untuk masuk ataupun keluar dari pasar.

Kelemahan lainnya adalah indikator ini hanya akan bekerja dengan baik bila chart membentuk tren yang kuat atau panjang, jika tidak maka hanya akan menghasilkan signal-signal yang lebih berpotensi merugikan trader (lihat gbr.2).

Dengan kelemahan demikian maka sebaiknya indikator MA hanya digunakan sebagai identifikasi tren yang sedang terjadi, bukan untuk memprediksi gerak chart berikutnya.
Seperti saya singgung di atas mengenai penggunaan MA yang sangat luas, salah satunya dikarenakan ada banyak jenis dari moving average, namun dasarnya ada pada 3 jenis ini:
1. Simple moving average (SMA)
2. Weighted moving average (WMA)
3. Exponential moving average (EMA)
Saya tidak akan menjelaskan tentang perbedaan ketiganya karena saya sendiri sejujurnya tidak begitu paham. Hanya saja yang sering saya dengar adalah bahwa pada tipe SMA, nilai semua data adalah sama, sementara pada EMA, tiap data punya bobot yang berbeda, makin baru suatu data maka akan semakin tinggi bobotnya. Dengan demikian EMA akan menghasilkan line yang lebih mendekati gerak chart daripada SMA untuk periode yang sama.

Mana yang lebih baik antara SMA, WMA, EMA??? well, seperti hal lainnya di dunia forex, semuanya tergantung dari masing-masing trader. EMA bisa memberikan signal yang lebih cepat namun akibatnya kemungkinan EMA memberikan signal yang salah juga akan semakin besar, begitu juga SMA, bisa jadi signal yang diberikan baru muncul setelah rally tren justru mendekati akhir.
Selain pilihan atas tipe MA yang kita gunakan, hal lain yang akan membedakan setiap trader adalah periode MA yang digunakan. MA dengan periode pendek tentu saja akan lebih dekat dengan chart berjalan dibanding periode yang lebih besar, dengan demikian periode pendek akan lebih cepat memberikan signal trading kepada seorang trader, tentu saja sejalan dengan resiko yang juga lebih besar.
Periode yang panjang akan mengurangi kemungkinan munculnya whipsaw, hanya saja signal trading akan lebih lambat muncul terutama bila menyangkut perubahan tren. Itu kenapa sebelumnya saya mengatakan bahwa MA terutama bagus untuk tren yang kuat atau panjang.
Itulah seninya menggunakan MA, trader harus menemukan tipe dan periode yang cukup cepat memberi signal trading tapi di saat yang bersamaan tidak menghasilkan false signal alias whipsaw yang cukup banyak.
Sekian dulu, kita lanjutkan di kemudian hari..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar